Situs Megalitikum Sulawesi Tengah

Lokasi situs megalitikum ini terletak di lembah Napu dan lembah Besoa Kab.Poso. Ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk menuju ke lokasi,dari Kab. Poso dan dari Palu melalui Kab.Sigi. Jika dari Palu jarak menuju lokasi kurang lebih 160km melalui medan jalan yang cukup berat,meskipun begitu jalur inilah yang paling sering ditempuh untuk wisatawan dengan alasan waktu tempuh yang pendek hanya sekitar 4 jam menggunakan mobil ataupun sepeda motor.

Di jalan menuju Napu kita akan menjumpai danau/telaga Tambing yang letaknya tidak terlalu jauh dari jalan. Di tempat ini terdapat halaman cukup luas yang bisa kita gunakan untuk mendirikan tenda jika ingin bermalam.

Jika hanya seorang diri disarankan menggunakan sepeda motor saja karena lebih fleksibel di medan jalan ini.

Untuk akomodasi ke lokasi situs silahkan hubungi di 0858 2414 3789 atau nomor kontak yg telah tersedia.

Sumber foto: hasil dokumentasi pribadi

 

Tidak banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari situs peninggalan ini, karena tidak adanya tulisan atau prasasti.Satu-satunya sumber informasi yang bisa didapatkan melalui cerita turun temurun dari orang tua yang mendiami lembah Napu. Beberapa Kalamba (batu besar dengan bentuk seperti mangkok) didapatkan tulang-tulang dan gigi sehingga Kalamba tersebut diduga adalah kuburan pada masa lampau. Tapi menurut sumber lain menyebutkan bahwa Kalamba tersebut merupakan tempat permandian raja atau keturunan bangsawan pada masa itu.

Selain itu kita akan menjumpai rumah adat yang usianya sudah cukup lama.

Di bawah ini saya coba sertakan informasi lain dari situs tersebut (kopi paste).

Di indonesia juga mempunyai budaya zaman megalitikum salah satunya di sulawesi tengah. Di di sebuah lembah di sulteng ini kita akan menyaksikan arca-arca atau patung batu unik dari zaman prasejarah yang terhampar luas di padang savanna.
Di lembah ini ratusan arca batu bisa kita temukan. Jarak dari satu arca ke arca lainnya bervariasi. Ada yang jaraknya mencapai 50 meter, bahkan ada pula yang sampai 100 meter. Tapi, yang paling mudah dicapai adalah situs arca Tadulako. Ini adalah arca panglima perang yang tersisa dari zamannya.

Berdiri di atas sebuah bukit, arca ini menghadap ke arah barat, yakni ke arah matahari terbenam. Menurut Munis Taro, totua adat Besoa, Tadulako adalah panglima perang yang tersisa dari sebuah perang suku di zaman sekitar 3.000 Sebelum Masehi. Ia dikutuk menjadi batu setelah dipukul kepalanya oleh seorang perempuan musuh dengan batang alu.
Itu kisah turun-temurun yang saya ketahui sampai kini tentang Tadulako. Tidak ada yang dapat memastikan sejak kapan kisah ini muncul, tapi dari perhitungan peneliti, kisah ini ada sejak ribuan tahun lalu, tutur Munis Taro yang kini berusia 72 tahun .
Saking terkenalnya arca ini, sebuah perguruan tinggi negeri di Palu, Sulawesi Tengah dinamai Universitas Tadulako. Tadulako merujuk pada gelar pemimpin perang atau orang yang sangat dihormati.

Di dekat arca Tadulako sekitar 50 meter kita juga akan menemukan Kalamba. Ini yang menarik. Menurut cerita, arca ini dulunya adalah bak mandi para putri raja. Bentuknya seperti ember besar. Kalamba ini mempunyai tutup yang juga terbuat dari batu alam.
Berkunjung ke lembah Megalitum bak terlempar jauh ke masa prasejarah di mana manusia belum mengenal tulisan. Selain Tadulako, salah satu arca yang fenomenal adalah Patung Sepe, yang biasa disebut pula Arca Miring, karena posisinya berdiri seperti Menara Pisa di Roma, Italia. Tak ada yang tahu pasti kenapa Patung Sepe ini posisinya miring.

Untuk menuju ke situs ini, kita bisa menempuhnya dengan kendaraan roda empat atau roda dua. Lalu dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sekira 300 meter dari jalan utama di Lembah Napu.
Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Tengah saat ini terdapat 432 objek situs megalit di Sulawesi Tengah. Tersebar di Lore Utara dan Lore Selatan, Kabupaten Poso. sebanyak 404 situs dan di Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi sebanyak 27 situs.

Saat ini, sebagian besar arca yang ditaksir berusia sekitar 3000 4000 SM itu masih berada di situs alamnya di Lembah Napu, Bada dan Besoa di Kecamatan Lore Utara dan Lore Selatan, Kabupaten Poso. Sementara sebagiannya sudah dibawa ke Museum Negeri Sulawesi Tengah.

Arca megalitikum semacam ini adalah hal yang langka di dunia karena hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada dan di Marquies Island, Amerika Latin.

Dr Albertus Christiaan Kruyt (1869-1949) dan Dr Nicolaus Adriani yang tiba di Poso pada 1895, dua orang misionaris dan juga ahli etnografer Belanda, mencatat sebelum masuknya Belanda ke Poso pada 1908, masyarakat Poso masih memperlakukan penguburan mayat-mayat anggota suku mereka di dalam batu maupun kayu. Sebagai bukti, sampai sekarang kita masih bisa menyaksikan Goa Latea, salah satu situs penguburan di dalam kubur batu dan goa-goa di Tentena, Sulawesi Tengah, sekitar 300 kilometer dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.

Tulisan di kopas dari blog: BLOG